“Eh..kenapa sih keluarga papa, anak-anaknya tidak akur?”ujar Claris kepada pembantu mama. “Tidak seperti keluarga saya, jika ada ulang tahun kumpul-kumpul,”lanjut Claris bercerita dengan gayanya yang khas, sambil mengayunkan tangannya dengan jemarinya yang lentik penuh dengan cincin emas koleksinya dan cincin kawinnya.

“Buno berulangtahun saja tidak ada yang mengucapkan selamat,” serunya lagi kepada pembantu mama, Inem yang hanya diam sebentar dengan maksud berpikir untuk membela keluarga dimana ia bekerja.

“Tidak juga,bu. Mereka semua pasti ingat, mungkin hanya sibuk dan lupa akan pekerjaan yang banyak. Mereka semua kan bekerja dan memiliki usaha,” ujar Inem membela keluarga majikannya.

Inem kasihan melihat keluarga majikan dimana ia bekerja ini. Keluarga ini cukup berada, semua anaknya menginginkan untuk membuka usaha dan terus ditekankan untuk menjadi keluarga yang mandiri secara finansial. Beberapa dari mereka memang berhasil dan mereka, anak-anak majikannya semuanya adalah orang yang baik.

Tapi heran, bagaimana mungkin Bu Claris yang merupakan menantu yang telah menikah dengan satu-satunya anak lelaki dalam keluarga majikannya malah kerap menjelek-jelekkan keluarga mertuanya?




Pikiran Inem yang sederhana tidak dapat mengerti konflik di keluarga majikan ini.

Sudah bukan hanya sekali ini saja Claris ini menyombongkan kelebihannya, entah mengenai cara hidupnya, cara mengajar, cara berdoa atau cara berpendapat dan bekerja. Beginilah mungkin jika orang terlalu banyak memiliki kepercayaan diri sehingga menjadi bebal. Tapi sesungguhnya tidak ada satu orangpun yang memuji dia dengan tulus. Hanya mengharapkan uang darinya.

Tidak sadarkah dia, bahwa keluarga dia pun tidaklah luput dari masalah yang merupakan borok dan aib. Hidup di kota kecil, pastilah segala keburukan akan tersiar dengan cepat, dan menjadi perbincangan orang sekitar. Hanya orang bebal saja yang tidak mendapatkan malu jika keluarganya dibicarakan keburukannya di belakangnya. Keluarga Claris sendiri bukanlah dari kalangan orang berada dan pekerja, ayahnya adalah seseorang yang suka main perempuan, sedangkan ibunya berjualan mas berlian dikalangan orang kaya mempunyai reputase yang tidak baik juga.

Claris membuka aib keluarga suaminya, yang sudah merupakan bagian dirinya. Secara otomatis dia mencoreng aib ke muka sendiri dan ke muka anak-anaknya.




Aku kasihan dengan orang seperti itu, yang suka membicarakan orang lain dan membandingkan dengan dirinya sendiri, dan membicarakannya bukan untuk membantu karena ia tidak dengan orang yang tepat untuk membantu terpecahkannya. Tapi ia hanya berniat mencari muka dan pujian yang justru malah aib dan corengan kembali ke mukanya.

Pertandingan_SendiriBukankah masing-masing dari kita memiliki pertanggungjawaban sendiri di depan Allah? Mengapa harus merecoki hal-hal yang bukan bagiannya?

Hendaklah kita masing-masing yang sudah mengaku percaya dan notabene sebagai anggota Allah, berlomba masing-masing menuju tujuan yang sama,Yesus, guna memperoleh kekekalan bersama Allah.

Janganlah mau dibelokkan dan dialihkan dari perlombaan imanmu itu, karena itu tidak akan menambah kebaikan sebagai orang yang percaya.(Ibrani 12 : 1-3)