Pohon natal yang menjulang tinggi, di dekorasi dengan hiasan yang cantik dan serasi, serta lampu yang berkelap-kelip menambah keindahan hari menjelang Natal. Di beberapa kota besar dunia, di tempat-tempat lapang dimana orang-orang kerap berkumpul bersama keluarga, teman atau yang terkasih menjelang Natal, dan pohon Natal selalu menjadi daya tarik, seperti simbol cinta  dan kasih selama masa liburan ini.

Sebuah kota di Belgia, Bruseels, menginginkan hal serupa untuk menghiasi Grand Place yang merupakan alun-alun utama di Brussels. Sebuah perusahaan Perancis 1024 Architecture ditunjuk untuk memvisualisasikan kemeriahan liburan di saat-saat Natal seperti sekarang ini.

Tontonan yang bertema Cahaya dan lebih ramah lingkungan menjadi alternatif daripada menebang pohon cemara tertinggi untuk hiasan selama satu bulan.

Maka lahirlah sebuah struktur ABIES-Electronicus dengan tinggi 25 meter yang terbuat dari rangka dan kain. Sebuah pohon natal dengan bentuk abstrak yang terdiri dari bentuk konifer dengan cabang bujursangkar yang menonjol dari inti batangnya. Bahkan hiasan ultramodern Natal ini juga ditambah dengan proyeksi video dan interaktif elektronik musik. Bahkan para pengunjung dapat masuk ke bagian dalamnya untuk menikmati pemandangan yang berbeda dan baru di alun-alun kota Brussels.

Ketika hari mulai gelap, modern design pohon natal ini akan terang dalam gelap, dengan warna yang berubah dari biru ke hijau, kemudian ke kuning dan ke merah, menggambarkan sebuah pohon natal yang berkelap-kelip. Ditambah dengan suara alunan musik yang menambahkan kemeriahan dan kehidupan.




“We are originally from Strasbourg, THE Christmas capital, which boasts of having the record for the highest natural tree,” says 1024 Architecture. “Our metal shaft can be assembled and disassembled as a toy. It is made up of standard elements that are easily found nearby, without having to travel from distant countries… and contrary to what has been said, it is cheap, compared to the price of exceptional convoys, cranes and staff mobilized by these giant pines. And it’s more fun!”

“Kami berasal dari Strasbourg, kota Natal, dimana kami berbangga memiliki kota dengan rekor pohon tertinggi. Dengan rangka logam yang dapat dirakit dan dibongkar, seperti layaknya mainan. Serta terbuat dari bahan yang mudah didapat disekitar kita, tanpa harus mencarinya ke tempat yang jauh dan ini bertentangan dengan apa yang telah dikatakan, bahwa hal tersebut murah, dibandingkan harga mengawal, mengangkut dan membawa pohon pinus raksasa. Dan lagi ini lebih menyenangkan,” kata 1024 Architecture.

Namun banyak dari warga Belgia yang tidak setuju, bahkan tidak sedikit yang membenci pohon Natal ultrammodern tersebut. Protes dan pengumpulan tanda tangan sebanyak 25.000 sebagai seruan untuk memasang pohon Natal yang sesungguhnya, bukan pohon Natal modern seperti ini. Warga Belgia menganggapnya sebagai penghinaan terhadap nilai dan tradisi mereka serta menganggap penafsiran abstrak atas pohon Natal sebagai “perang pada Natal.”

Namun pejabat kota tersebut berpendapat berbeda, mereka menyatakan bahwa pohon Natal Ultramodern tersebut memancarkan kegembiraan Natal, bahkan terdapat layar dengan palungan yang terletak beberapa yard dari lokasi.
Mereka juga menyatakan bahwa Brussels merupakan kota dengan penduduk multikultural dan festival musim dingin inibertujuan untuk semua warga, bukan hanya warga yang yang merayakan Natal sebagai hari libur keagamaan.




Rasanya ada dan tidak adanya pohon Natal tidak dibuat untuk merusak atau melanggar tradisi. Jika pohon Natal seperti ini hadir di tengah kota besar di Indonesia tentu akan menyenangkan, namun juga akan mengundang reaksi yang keras bagi beberapa kelompok agama berbeda.

Bagaimana menurut Anda?

Semoga pada hari Natal ini bukan pohon Natal atau hiasan Natal saja yang dituntut, namun lebih pada hati yang damai dan penuh kasih yang terpancar dari hati.

Selamat Natal

Sumber