Semakin bertumbuhnya hubungan kita dengan Tuhan, maka makin disadari perlunya untuk mempercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan, terutama dalam hal keuangan.

Bagian keuangan adalah bagian yang tersulit untuk saya, karena disatu sisi begitu banyaknya keinginan pribadi untuk membelanjakan atau memiliki uang lebih banyak di bank, atau menyerahkan sepenuhnya keuangan kepada Tuhan, yang merupakan Penyelamat dan Penjaga saya?

Kekhawatiran akan masa depan kerap menderu dan menyerang, membuat keinginan untuk menabung lebih banyak lagi daripada memberi.

Saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan, tapi jauh di dalam hati saya…, saya tahu ini tidak benar.

Saya tahu bahwa tagihan bulanan yang datang tiap bulan nya kerap membuat kekhawatiran yang tidak mencerminkan sebagai pribadi yang percaya kepada Tuhan untuk masa depannya.

Saya tahu buku tabungan yang saya miliki tidak menggambarkan seseorang yang telah diberikan banyak sekali oleh Tuhan.

Dan saya tahu bahwa saya memberikan kepada Tuhan dari apa yang tersisa, tidak mencerminkan pribadi yang mengaku memberi Tuhan segalanya.

Saya telah focus pada hal yang salah, saya pikir untuk memberikan kepada Tuhan semua keuangan. Saya telah fokus pada keuangan tapi Tuhan berfokus pada hati.

Bisa saja kita memiliki buku tabungan. deposito yang besar, yang diperoleh dari kita bekerja keras, berhemat, menabung dan memberikan pelayanan dan memberi kepada Tuhan. Bisa juga sebaliknya, kita memiliki uang yang sedikit, tabungan yang lebih sering ditarik dan diambil daripada ditambahkan, sehingga kita menggenggam lebih erat, berhemat lebih hebat, sampai Tuhan tidak bisa membuka tangan kita untuk memberi.




Apakah kita sudah mempercayai Tuhan mengenai keuangan kita?

1. Masihkah kita memberi?
Memberi dengan segala sukarela atas apa yang kita miliki. Masihkah kita berjuang untuk memilih antara membeli TV baru atau memberi kepada Tuhan dengan membantu saudara yang perlu bantuan?

2. Masihkah kita mencintai uang?
Cinta uang adalah awal dari segala malapetaka. Tuhan tidak menyukai hal ini, tapi masihkah kita berlaku demikian? Ketika saudara perempuanmu kekurangan dan menghadapi kesulitan sedangkan kau mampu. Kita bisa saja memiliki sejuta alasan untuk tidak membantu dan memberi, tapi apakah pernah dipikirkan Apa yang akan Tuhan lakukan, jika Ia ada diposisi kita? Membantu atau lebih memilih menambah pundi-pundi kita di tabungan?

3. Masihkah kita kuatir?
Banyak sekali dibahas mengenai kekuatiran di dalam Alkitab. Dalam Ibrani 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Pada saat kita kuatir, kita juga meragukan Tuhan mengenai kemampuan dalam memenuhi janji-Nya.
Jadi tidak perlu kuatir, percaya dan tetap bekerja.

4.Sudah mengatur keuangan dengan baik?
Kita tahu keuangan harus diatur dengan baik. Di Matius 25:14-30, Yesus memberikan perumpamaan mengenai 3 hamba yang mengerjakan uang tuan mereka dan bertambah banyak. Hamba yang ke-3 terlalu takut untuk mengusahakan uang tuannya, sehingga hamba itu hanya menyembunyikan uang itu dan kemudian mengembalikannya ketika tuannya telah kembali.
Dari ayat  ini kita telah tahu bahwa mengatur keuangan, pemberian dan waktu yang telah Tuhan berikan kepada kita adalah keharusan.

Saya tahu mengatur keuangan tidaklah mudah, saya seorang ibu dengan dua orang anak, bagaimana menangani keuangan yang kadang lebih besar pasak daripada tiang? Saya tahu dan saya telah belajar bertahun-tahun dalam kesusahan. Tapi saya tidak perlu kuatir karena Tuhan telah menyediakan dan tengah mempersiapkan saya menjadi pribadi yang lebih bernilai di mata-Nya.

Kita bisa memiliki banyak harta tapi menjadi pelayan Tuhan yang buruk, sama seperti kita bisa saja kekurangan tapi menjadi pelayan Tuhan yang baik.




Yang terpenting dalam hal melayani Tuhan adalah hati yang berserah dan ketekunan yang tiada habisnya. Sebab memberi seluruh hidup kita kepada Tuhan lebih berharga daripada uang atau korban sembelihan.

Biarlah Tuhan semakin dimuliakan dalam kehidupan saya, dalam pekerjaan, dalam mengurus rumah tangga, dalam mendidik anak, dalam bertingkah laku kepada teman, kerabat dan tetangga.