Mengalami pengalaman mertua vs menantu dalam kehidupan berumah tangga? Tidak heran hal ini terjadi karena perbedaan dalam pandangan dan cara berpikir juga usia yang terpaut jauh antara mertua dan menantu.

Menjalani pernikahan saja sebenarnya sudah cukup melelahkan, karena dalam menjalani pernikahan yang telah berusia 10 tahun lebih saja masih sering terjadi  pengenalan akan hal-hal yang baru yang baru kita ketahui dalam diri pasangan kita. Apalagi ditambah dengan penyesuaian dengan orang tua dari pasangan beserta dengan adat istiadatnya (jika berbeda suku dan adat istiadat)

Pertengkaran mertua vs menantu ini berdampak pada kehidupan pernikahan pasangan suami istri dan anak atau cucu? Bahkan banyak mahligai pernikahan yang dikarenakan pertengkaran mertua vs menantu. Di satu sisi mertua adalah orang tua pasangan kita dan dilain sisi mertua adalah orang yang ingin disingkirkan dan menyebalkan.

Pernikahan seperti penyatuan dua buah keluarga dengan adat istiadatnya, namun apa yang terjadi jika dua buah keluarga itu memiliki perbedaan yang besar dalam segala hal, seperti Jen yang seorang keturunan Tionghoa yang menikah dengan Denny seorang yang berasal dari suku Batak. Walaupun Batak dan Tionghoa memiliki adat istiadat yang hampir serupa, namun perbedaan makin membuat batas akibat ketidakdewasaan dari kedua belah pihak.

Beberapa kata-kata yang tidak pantas diucapkan mertua, namun dikatakan juga





1. Orang tua kandung tidak diperlukan kehadirannya dalam pernikahan adat
Sebagaimana pernikahan adat Batak yang mengharuskan pemberian nama keluarga Batak bagi calon menantu yang berasal dari suku lain. Hal ini dimaksudkan agar calon menantu diterima dalam keluarga besar Batak. Dalam hal ini calon menantu akan dianak angkat oleh salah satu keluarga yang memilki marga yang sama dengan salah satu orang tua pasangan sehingga kekerabatan tetap dapat terjalin. Pemilihan keluarga yang akan mengangkat anak pun diperlukan kebijakan dari orang tua pasangan, karena hal ini tentu akan berdampak pada hubungan kekeluargaan di kemudian hari.
Sebagai orang yang ingin mengetahui lebih lanjut Jen yang tidak mengetahui mengenai adat istiadat Batak menanyakan peran orang tua kandungnya dalam tradisi Batak.
Namun jawaban yang diperoleh sungguh diluar dugaan, sambil tertawa mertua berkata, “Orang tua mu tidak ada hubungannya dengan pesta ini, mereka tidak diperlukan untuk datang.”
Sebagai anak yangmencintai orang tua kandung yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, Jen berpkiri dalam hatinya, “Bagaimana meniadakan orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkanku? Membalas kebaikan mereka saja aku belum mampu.”  Jen terdiam. Beberapa waktu lalu, Jen berjumpa dengan teman-temannya yang menikah dengan pasangan dari suku Batak dan telah diadatkan dengan pemberian marga kepadanya, namun banyak cerita yang tidak menyenangkan mengalir darinya, karena orang tua adatnya selalu meminta uang untuk ini dan itu, sedangkan orang tua kandung teman sangat pengertian dengan keadaannya.




2. Sudah berhak memperoleh harta warisan
“Hahaha…sekarang sudah resmi kita ya, sudah berhak memperoleh warisan?” ujar mertua lelaki, setelah selesai menandatangani surat pernikahan. Dalam sekejap, suasana keluarga besar Jen langsung menegang. Mereka saling berpandangan dan bertanya, Candaan, kah.

3. Yang berhak untuk cantik hanya Lisa (anak bungsu).
Pernikahan anak bungsu membuat mertua kehilangan akal sehatnya. Pernikahan adik ipar Jen termasuk pernikahan yang sangat emosional untuk mertua. Dan terjadi ketidakpuasan mertua terhadap salah satu mantu perempuannya yang disebabkan karena pemberian mereka untuk bantuan acara pesta pernikahan adiknya yang merupakan anak bungsu mereka, sangat sedikit. Namun baru diketahui kemudian bahwa mereka lebih memilih membeli tas baru dibandingkan memberikan sumbangan untuk pesta pernikahan adiknya. Akhirnya serangkaian emosional meruap pada malam hari sesudah acara itu berlangsung, termasuk sikap emosional mertua kepada Jen yang merupakan anggota keluarga baru.
“Yang berhak untuk cantik hanya Lisa, tidak ada yang lain,” ujar mertua dengan penuh berapi-api kepada Jen. Kata-kata itu meluncur karena Jen diketahui meminta bentuk sanggul modern kepada hairdresser.
“Seyogyanya semua perempuan berhak cantik, kalau tidak boleh cantik kenapa juga didandani? Lagian saya sudah cantik dan menonjol tidak didandani juga,” ujar Jen dalam hati membantin
Jen menyebut peristiwa emosional ini dengan “Bandung Lautan Api ke -2”

3. Mertua mengomentari cara berpakaian
Mertua begitu peduli dengan apa yang dikenakan menantunya. Terutama penggunaan celana pendek, yang walaupun dikenakan di rumah Jen. Memberikan kritikan bahwa baju yang dikenakan tidak pantas untuk acara di salah satu ibadah keagamaan.
Namun nasihat itu tidak berlaku untuk anak perempuan bungsunya. Saat itu Jen melihat, Lisa mengenakan celana pendek yang sangat pendek dan tidak ada larangan dari orang tuanya.
Jen tetap berpikiran positif, dengan menganggap kulitnya yang putih mulus lebih menonjol dan memperlihatkan keseksian dibanding adik iparnya yang berwarna coklat kehitaman.

4. Mertua menyindir mengenai kehamilan
Anak adalah anugrah Tuhan yang luar biasa, tapi untuk mertua dari suku Batak dan keinginannya untuk mendapatkan cucu laki-laki dari mantu perempuannya sungguh luar biasa. Nasihat untuk memeriksakan diri terdengar biasa saja saat itu, walau nasihat itu terdengar membanggakan anak perempuannya dan mantu perempuan lainnya yang segera hamil sesudah 1 bulan menikah.
Jen memahami bahwa anak bukan sesuatu yang diupayakan dengan keras tapi dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Tapi Jen mengikuti saran untuk memeriksakan diri ke dokter. Dan hasil konsultasi dengan dokter kandungan cukup menguraikan air mata.




5. Mertua membedakan kasih sayang kepada cucunya
Mertua membela cucunya dari anak perempuan bungsunya daripada anak Jen. Cerita dimulai ketika cucunya Alex usia 4 tahun, memukul Maya yang masih berusia 3 tahun di depan opungnya. Namun mertua balik memuji cucunya Alex tersebut dengan mengatakan bahwa ia pintar dan tidak nakal serta bla..bla..bla.

6. Mertua membandingkan pemberian dari anak-anaknya
Tahukah kalian memberi uang kepada mertua dalam adat Batak adalah penting? Jen hendak memberikan uang kepada mertuanya, “Inang, ini kami hendak memberi sedikit saja kepada Inang…”
“Oh…ya, tidak apa, kakak kamu juga Kak Marisa selalu memberi dengan jumlah yang lebih besar tiap bulannya,” ujar mertua tanpa memandang kepadanya.

7. Mertua meminta uang untuk keperluan pesta di daerah
Sudah menjadi rahasia umum, adat Batak selalu banyak acara di akhir pekan. Dan sudah menjadi kebanggaan bagi mertua untuk selalu hadir di acara pernikahan dan penguburan, terutama di kampung halamannnya. Tapi berhubung, mertua adalah seorang pensiunan, maka keuangan mertua tidak mencukupi lagi untuk menutupi ego mereka di kampung halaman. Mertua mengumpulkan anaknya dan meminta untuk biaya pesawat dan uang saku serta uang amplop untuk menghadiri acara tersebut.
Saya terkejut, bagaimana mungkin, kami yang masih pas-pasan selalu dimintai hampir rutin tiap bulan untuk memuaskan kebutuhan pesta mertua? Hal ini tidak masuk akal, jika sudah tidak mampu, ya harus diterima dan tidak usah datang.

8. Mertua mengatakan untuk meminta bantuan keuangan pada keluarga besar menantu
Seperti kehidupan yang tidak berhenti dari masalah, maka pernikahan pun demikian. Saat itu Jen tengah mengalami kesulitan secara finansial, maka kami banyak melakukan penghematan. Mertua yang mengetahui hal ini berkata, “Mengapa tidak meminta bantuan kepada keluarga kamu?”
Jen terhenyak kaget, bukankah, anaknya yang laki-laki tengah kesulitan tapi mertua ini malah menyarankan untuk meminta bantuan kepada keluarga besar Jen?

9. Mertua mengenakan baju merah pada saat berkabung
Ketika Jen mengalami kedukaan karena ditinggalkan oleh ibu kandungnya, diikuti dengan pasangan Jen yang sakit keras, mertua yang bermaksud menolong dan membantu tinggal di rumah Jen untuk sementara.
Saat itu ada penghiburan datang dari gereja ke rumah Jen yang bermaksud menghibur Jen. Mertua pun langsung bergabung dan berkumpul dalam kebaktian kecil tersebut, setelah selesai mertua Jen bercerita bahwa ia juga aktif terlibat di gereja di kotanya untuk kegiatan penghiburan dan paduan suara, seakan menyombongkan diri dan mencari pujian,
Perwakilan gereja memuji hal itu juga kecantikan dan kemudaan ibu mertua saya serta bajunya yang berwarna merah cerah.
Entah itu pujian atau sindiran, Jen menyadari bahwa mertua mengenakan baju merah. Jen hanya bisa mengelus dada dan makin terluka hatinya.




Sepatutnya mertua dan menantu dapat saling intropeksi diri sendiri dan lebih banyak memberikan kasih daripada omongan kosong yang menyakitkan. Seperti yang diingatkan oleh rasul Paulus, hendaknya masing-masing diri kita berlomba dalam kebaikan, mengucapkan segala yang baik dan mengingat segala yang bahagia dan indah.

Tidak hanya mertua vs menantu, tapi banyak pula cerita mertua dan menantu yang sangat akrab satu sama lain.

Semoga hal ini mencerahkan.