Percobaan Bunuh Diri

Bunuh Diri 1

Pernahkah Anda mengalami banyak masalah? Pernahkan Anda merasa tertekan? Pernahkah Anda ingin mengakhiri hidup? Saya pernah…

Hidup memang tidak seindah yang dibayangkan, menurut syair lagu dan kata orang-orang. Saya pernah mengalami 3 kali keinginan untuk mengakhiri hidup. Dan saya tahu sekarang, mengapa saya memilih kehidupan.

Percobaan bunuh diri pertama
Saat itu saya masih belia, dan baru mengenal cinta, dan betul sekali seperti kisah cinta lainnya, kisah cinta itu berakhir. Apa yang membuat saya ingin bunuh diri?
Saat itu, saya merasa sangat benci dengan kekasih saya dan kerap bertengkar di telepon karena hal kecil. Saat ini saya memandang masa itu adalah masa labil dan ketidakdewasaan jiwa dan pikiran. Terbayang kisah percintaan seperti di film-film Catatan si Boy atau kisah cinta lainnya, dan timbul rasa kekecewaan dalam diri, karena saya tidak diperlakukan seperti si A dalam film. Jadi kekecewaan saya berkembang menjadi tidak puas dengan keadaan saya, seperti kecantikan wajah, kekayaan dan ketenaran.
Klise banget, ingin bunuh diri karena tidak cantik, kaya dan tenar.

Apa yang menghentikan saya untuk bunuh diri?
Saat itu malam hari, saya tinggal seorang diri di rumah, lampu sedang padam dan saya hanya ditemani oleh 2-3 batang lilin. Jalinan kain telah disiapkan, tapi tiba-tiba saja terlintas wajah mama, yang menangis. Saya sadar, bahwa saya tidak boleh hanya memikirkan masalah ini, saya harus keluar dan mencari solusi atau jalan keluar.

Setelah itu
Akhirnya saya banyak melakukan aktifitas yang positif, bertemu teman yang positif dan kini saya hanya bisa mengenang bahwa itu adalah masa suram kelabilan jiwa saya pada masa muda. Saya sangat bersyukur saya tidak membunuh diri saya, karena saya bisa melewati semuanya dan bahkan tersenyum lagi.




Percobaan bunuh diri kedua
Keinginan bunuh diri ini muncul lagi terutama disaat saya sudah melahirkan anak pertama. Saat itu saya baru tersadar menikah dengan seseorang yang keluarganya sangat peduli dengan adat istiadat, sehingga mengharuskan saya untuk melakukan ini dan itu sesuai adat, yang tentu saja dengan pengeluaran ekstra yang bukan kecil. Ditambah lagi mertua yang keras dan suka membandingkan antara mantu yang satu dengan mantu yang lain. Ditambah lagi suami yang diam saja jika saya “digosipkan.”
Saya kecewa dengan bayangan akan pernikahan yang sesungguhnya tidaklah demikian. Apalagi saat itu dirasakan pihak keluarga suami lebih banyak menuntut tapi tidak memberi.

Apa yang menghentikan saya?
Saat itu saya sedang berada di salah satu kamar, dengan sebuah cutter di tangan. Saya sudah hampir ingin menyilet pergelangan saya (Yang saya ketahui dari film-film), di depan suami saya yang berusaha menghalangi. Tiba-tiba anakku menangis, teriakannya menyadarkan saya….

Setelah itu
Saya sadar, kebodohan saya terulang lagi. Keluarga besar suami pasti tidak akan pernah mau disalahkan atas kematian atau bunuh dirinya saya. Mereka akan tetap senang dengan kegiatan mereka dan kehidupan mereka, lalu bagaimana dengan anak saya? Anak yang sudah terlahir dan membutuhkan saya? Saya putuskan tidak ambil peduli dengan perkataan mereka, “peduli setan” mereka mau bilang apa, yang penting saya bahagia.

Percobaan bunuh diri ketiga
Kali ini permasalahan lebih kompleks menurut pemikiran saya saat itu. (Tiap saat bunuh diri ini terjadi tiap masalah yang ada selalu terlihat kompleks, tapi kemudian menjadi tidak kompleks setelah berhasil dilalui). Pasangan saya (suami) sedang menderita depresi yang mengakibatkan pemasukan berkurang. Tak lama kemudian mama terkasih meninggal.

Sebelumnya saya dan suami telah membicarakan hal ini, mengenai kemungkinan yang terjadi jika salah satu orang tua saya meninggal. Kami berkata, kemungkinan saudara kandung saya akan berubah dan mulai meributkan harta. Kami harus siap-siap untuk hal ini, tapi kenyataan berbicara lain, mama yang paling saya kasihi meninggal, pada saat suami masih depresi dan usaha belum berkembang.

Maka mulailah tekanan dari saudara saya, papa saya, dan kekecewaan terhadap keadaan suami.




Apa yang menghentikan saya?
Suami tertidur terus karena ia mengkonsumsi obat antidepresan, saya sangat kecewa melihat itu. Mengapa suami tidak bangun dan berusaha sehingga saudara dan papa tidak menekan saya? Saya marah besar, saya menyumpahi dan kecewa terhadap semua, bahkan  kepada Tuhan. Saat itu saya ingin pergi dengan mobil dan menabrakkan diri, suami berusaha menghalangi, anak-anak berteriak ketakutan.

Saya tersadar karena mendengar doa anak bungsu saya yang berteriak minta tolong kepada Tuhan Yesus. “Tuhan Yesus tolong mami, Tuhan Yesus tolong kami ,” teriaknya sambil menangis.

Saya mereda…tapi hanya sementara…
Malam harinya saat mereka sudah tertidur, saya yang tidak bisa tertidur, berjingkat keluar dan mengambil kain panjang  untuk menggantung diri. Suami keluar dan menghalangi lagi, sambil berkata, “ Mi, ingat anak-anak.”

Saat itu saya menangis keras-keras. Berteriak dalam hati dan berkata Tuhan tolong saya.

Apakah Tuhan menolong?