Hari ini hari  tahun baru cina, dan di tahun ini juga usia Jen memasuki 40 tahun. Kehidupan dimulai di umur 40 tahun, kata beberapa orang. Dan memang benar…(akan diceritakan di kisah selanjutnya)
Jen tidak bersemangat dalam merayakan ulang tahunnya, suaminya sedang sakit, sejak 6 bulan yang lalu. Tapi keceriaan anak-anaknya menggugahnya dan membuat semangatnya terpecik muncul. “Ya, Aku pasti bisa melaluinya…,” ujarnya dalam hati.

Pada hari Selasa pagi, Jen mulai berkemas, untuk melakukan perjalanan dengan mobil bersama dengan anak-anak. Mereka telah memutuskan untuk berangkat di sore hari. agar dapat tiba di kota kelahirannya di malam hari. “Obat-obatan, peralatan mandi, handuk,…hmmmm, apalagi yah?” Jen bergumam sendirian. Anak-anak juga dengan cerianya berkemas sendiri, mereka sangat senang dan ceria untuk melakukan perjalan ke kota lain untuk bertemu dengan sepupunya.

“Mam, boleh bawa mainan?”kata Ella
“Tentu boleh, dong,” jawabku singkat, “Tapi tidak boleh lebih dari 2 mainan, ya”
“Oke, mam.”
“Mami, kalau aku boleh bawa boneka ularku?” tanya anak bungsuku sambil menunjukkan boneka ularnya yang sudah kumal.
Sambil tersenyum dan mengacak rambutnya dengan halus, Jen berujar,” Tentu, sayang.”

Pakaian dan obat telah siap masuk dalam koper besar, hanya tinggal makanan ndan minuman untuk perjalanan. Dan tidak terasa semua sudah terlewatkan dalam waktu 1 jam.

Mobil kami sudah siap untuk berangkat dan barang-barang yang diperlukan sudah terbawa, persiapan terakhir adalah anjing peliharaan yang masih kecil, bernama Mako.

Mako sangat ceria pergi bersama seluruh keluarga yang sayang padanya, tapi juga ada perasaan takut, karena Mako beberapa kali muntah saat perjalanan menjemput Ella dan Roy. “Ah,…tidak ada pilihan lain, selain mengajak Mako,” gumam Jen dalam hati “Jika tidak diajak nanti siapa yang urus? ditaro di penitipan nanti berkutu seperti anjing yang dulu.”

“Ah..biarin biar mama bisa melihat Mako.” Pikir Jen yang teringat akan mamanya.




Hubungan Jen dengan mama adalah spesial. Mama selalu bisa mengisi, menasehati dan membuat Jen ingin selalu membahagiakan mama nya dengan banyak bercakap dan bersenda gurau. Masih teringat di kenangan Jen mengenai kisah Cempaluk yang demikian penuh semangat diceritakan oleh mama, dalam kunjungannya ke kota Cirebon beberapa waktu yang lalu, dan senyum mengembang di wajahnya.

Perjalanan ke Cirebon tidaklah semulus yang diduga. Sudah pukul 7 malam tapi Jen dan keluarganya baru tiba di Cikampek. Hal ini dikarenakan jalan tol dipadati dengan laju orang yang pulang kantor.

Badan Jen sudah terasa amat penat dan lelah. Mereka berhenti di perhentian dekat situ dan berisitrahat sejenak. Dan 4 jam kemuadian perjalanan berlanjut dan tiba di Cirebon pukul 2 pagi.

Rabu pagi, Jen terbangun, direnggangkan tubuhnya di tempat tidur, terlihat disampingnya anak-anaknya, tetap tertidur lelap. Juga suaminya yang tertidur dalam 1 ranjang besar yang telah mama siapkan untuk mereka. “Ah,.. mama bener-bener menyiapkan semuanya untuk ku.” pikir Jen dalam hatinya. Mako yang tertidur di bawah ranjang, segera terbangun mendengar derit ranjang ketika Jen berusaha mengangkat beban tubuhnya dari atas tempat tidur.

“Hai, Mako? Mau pipis? Ayo, ikut mami…”bisiknya kepada Mako tidak ingin membangunkan ke tiga orang yang dikasihinya yang masih tertidur. Mako seraya mengibaskan ekornya dan menguap dengan suara yang mendengkin halus, tapi tanda tangan Jen di bibirnya nya menghentikannya mengeluarkan suara lebih lanjut.

Segera ia merapikan diri sejenak dan pergi ke teras rumah, dimana mamanya selalu duduk menyambut pagi. “Pagi, mama,” kata Jen dengan ceria sambil mencium kening mama sejenak. Senyuman mama benar-benar membuat Jen semangat, dengan tatapan penuh senang, mama seperti biasa menanyakan apa yang hendak dimakannya untuk sarapan. Dan Mako melejit ke luar halaman rumah masa kecil Jen yang cukup luas dan membaui sana sini dan memberi tanda dengan mengencinginya.

“Jen, mau sarapan apa? Panggang di dekat pasar?”
“Memang buka, Ma? Bukannya biasanya pas Imlek tutup?”
“Loh, Imlek kan besök? Kalau sekarang ya masih buka,” kata mama sambil mentertawakan.
“Ha..ha..ha,” tawa Jen terlepas “Oke, ma. Jen mau.”
“Semua masih tertidur, Jen?”
“Iya, Ma. Kecapekan mereka, apalagi Bernard, kan dia yang menyetir.” Lalu meluncur semua cerita mengenai kemacetan di Jakarta yang dikarenakan bertepatan dengan jam bubaran kantor. Dikisahkannya lagi mengenai Mako anjing Jen yang muntah di jalan dan terlihat pucat. Muka Mama terlihat sangat ceria, mendengar semua cerita Jen.

Matahari sudah semakin tinggi, anak-anak pun juga sudah terbangun dan sudah sarapan lezat daging merah Apun kesukaan mereka.
Mereka bermain sejenak dengan Cimol dan Mako yang sudah dapat bergaul akrab walau dengan usia yang terpaut jauh.




Keceriaan anak-anak, menambah senyum di wajah mama.

Sore itu, kejutan datang dari Claris yang mengabari membelikan kue ulang tahun sekaligus kue tahun baru cina. Jen tidak pernah menyangka mendapatkan kejutan hadiah dari kakak ipar yang dahulu dikenalnya menyebalkan. Jen merasakan perubahan yang mendalam pada tahun baru cina ini.
Melihat cici nya, papa dan mama berkumpul, beserta anak dan keponakan, sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Jen di usianya yang ke 40. Mama terlihat bingung mengenai siapa yang berulang tahun, setelah diucapkan nama Jen, mama langsung tersenyum, “Oh ini ulang tahun Jen? Yang ke berapa?” Semua langsung tergelak tawa.

“Masih 28 tahun, Ma,” disertai kerlingan canda yang menyenangkan.

Harapan telah diajukan kepada Tuhan dan potongan kue pertama kepada mama tercinta,
“Ini kue untuk mama tercinta yang telah melahirkan Jen ke dunia ini dengan penuh kesakitan dan membesarkan Jen dengan penuh kasih. Terima kasih mama.” sambil mencium pipi mama.

Potongan kue kedua, “ Untuk papa tercinta yang sangat luar biasa sekali dalam mendidik dan membesarkan Jen.” Sambil mencium keningnya.

“Dan yang ketiga untuk suamiku tercinta, yang terkeadang sangat menyebalkan dalam hal tertentu,” seraya mencium bibirnya.

Sore yang indah dan manis, dengan penuh keyakinan Jen mengawali usia 40 tahun, yang memang adalah fase kehidupan yang sesungguhnya.

Malam menjelang tahun baru Cina, mama dan Jen duduk di depan tv, seperti biasa Jen terus bercerita mengenai semua yang dilaluinya.
“Mama sudah menyuiapkan angpao untuk cucu? Anak-anak Benny dan Claris biasanya datang pagi banget, Ma. Jangan seperti tahun lalu yang keteteran.” Jen bertanya dengan mama nya sambil terus mengelus tangan mama yang telah keriput.
“Sudah, Jen, nih ada di tas. Coba ambil dan lihat, benar tidak semuanya berjumlah 500.000 masing-masing.” sahut mama.
Sambil membuka tas merah mama, Jen bertanya, “Siapa yang membantu mama memasukkan uang?”
“Mbak Li. Bener ndak jumlahnya, Jen?”
“Bener Ma. Mama baek banget ya, kalo ngasih gede.”
“Biar seneng anak-anaknya,” seraya mengembangkan senyum yang khas di antara pipi nya yang mengapel.




Tahun baru Cina, sudah tiba. Jen terbangun dengan hati yang lega karena sudah beristirahat dengan nyenyak setelah dua malam menginap. Disambutnya hari itu dengan senyum dan tionghi kepada mama yang sudah duduk di teras seperti biasa. “Tiong Hi, Ma…XI Nen Kua Le,” ujarku sambil memberi salam. Mama senang luar biasa, duduk di teras dengan baju merahnya dan senyuman yang menyegarkan.

Tak berapa lama, datang anaknya koko Benny beserta dengan Oma mereka datang memberi salam.
Keceriaan bertambah dengan berkumpulnya koko dan kedua cici yang hadir dalam rumah mama. Ada kekecewaan ada tangisan dari anak-anak, naun juga tawa dan kebersamaan yang tidak mungkin terlupakan lagi dalam hidup Jen.

Keesokan hari nya, di pagi hari yang sejuk, Jen mencium kening mama untuk berpamitan. Ternyata pada saat itu adalah hari terakhirnya mencium kening mama yang menjawab, “Jen, Kenapa sih, cepat sekali pulangnya….”

Bersungguh-sungguhlah dalam mengasihi seseorang, lewatkanlah waktu bersama dengan kasihmu sepenuh hati mu. Karena perpisahan, oleh kematian bisa terjadi kapanpun juga.

Hari sudah semakin mendekati 40 hari meninggalnnya mama, Jen merasakan kekosongan dan kesepian yang amat sangat. Merasakan penyesalan karena tidak melakukan yang terbaik untuk mama dan kekecewaan karena harus mengalami ini sendirian. Menangis, berdoa, bertanya dan memohon kepada Tuhan selalu dilakukannya, tiap saat ia teringat oleh mama nya.