Jen merasa gelisah dan hati terkejut terus berkelanjutan, ia berpikir mungkinkah hal ini menurun?

Beberapa waktu yang lalu Jen mendengar dari Bibinya mengenai masa lalu dari orangtuanya. Hati rasanya terkesiap akan pernyataan tersebut. Pikirnya, “Jadi yang selama ini yang aku dengar ketika mama menangis di telpon umum saat menelpon Pamanku dahulu adalah benar?”

“ah..Mama bertambah berat sekali hidupmu,” ujarku dalam hati.

Tiap orang punya masa lalu, ada masa lalu yang membanggakan dan ada yang membuat malu. Masa lalu yang membuat aib dan malu, andai bisa dihapus dan diperbaiki akan lebih baik rasanya, tapi semua yang sudah terjadi tidak bisa di-‘undo‘ atau ‘cut‘ begitu saja. Itulah yang menjadikan diri kita sekarang ini.

“Ya, mama mu menangis dan datang kepada nenek, meminta untuk dinikahkan dengan papa mu,” ujar Bibi dengan suara yang terdengar lantang dan keras untuk Jen. Sungguh selama ini baru kali ini ia mendengar hal ini, dan hampir tak percaya rasanya. Bibi melanjutkan ceritanya tak menyadari keterkejutan Jen, “Karena sudah hamil Cessa.”

Byurr… air dingin terasa disiramkan keseluruh tubuh Jen saat itu juga. ‘Apa??,’ serunya dalam hati, tapi Jen hanya terpaku dan menanggapinya dengan,”Ohhh…”, yang panjang untuk menutupi rasa kagetnya.

Pikiran Jen berkecamuk..’Jadi inikah dosa turunan itu? Jadi yang aku dengar dahulu ketika menguping pembicaraaan mama di telpon umum, saat mama menangis ketika berbicara dengan abangnya, yang notabene adalah pamanku, adalah benar?,’ ujarnya dalam hati dan sekali lagi hampir tak percaya.




Hati Jen menjadi kuatir akan hal ‘dosa turunan’ ini. Ia berpikir, ‘Apakah hal ini dapat terulang kembali kepada anak gadisku?’ Dan tiba-tiba dia merasa ketakutan luar biasa sewaktu membayangkan hal ini akan menimpa anaknya. ‘Ya, Tuhan apa yang akan aku katakan nanti? Apa yang dapat aku perbuat? Apakah lelaki itu adalah lelaki yang baik dan bertanggungjawab?,’ kekhawatiran menghinggap padanya.

Jen pun teringat masa kelam yang dilaluinya ketika ia menjalani hubungan seksual sewaktu pacaran, ia tidak menyadari hal itu salah pada waktu itu, ia hanya merasakan kenikmatan dan rasa mencintai yang amat sangat pada kekasihnya.

Tidak diperdulikannya pelajaran dari pengalaman yang dialami oleh ketiga kakaknya yang kemudian diketahui oleh ke-dua orangtuanya. Jen juga mengetahui bagaimana kedua orangtuanya sangat terluka dan marah pada mereka sewaktu mengetahui hal itu.

Jen kembali bergidik, dan takut serta kuatir hal ini akan menimpa padanya, dimana Jen akan berposisi sebagai ibu, bukan anak.’TIDAK…,’ teriak Jen dalam hati.

Ia berusaha menenangkan dirinya tapi tak bisa. Akhirnya Jen menceritakan kekuatirannya pada suaminya. “Mas, bibi menceritakan kepadaku mengenai masa lalu   orang tuaku, dan kini aku merasa kuatir, karena apa yang dialami oleh orangtuaku, juga dialami olehku. Walaupun kita telah berbuat yang salah dahulu, Tuhan ternyata membuatnya menjadi benar dan menunjuk Mas menjadi suamiku. Seorang lelaki yang mau bertanggungjawab dan mengasihiku apa adanya. Kini kekuatiranku adalah mengenai anak kita, walaupun dia masih kecil,  tapi aku kuatir, apa yang telah kita lakukan akan dilakukan juga oleh anak kita nanti,” ujarnya seraya memegang tangan suaminya dan memandang matanya yang dalam.

“Bagaimana jika anak kita ternyata melakukannya hubungan pranikah dengan lelaki yang  tidak bertanggungjawab?” ungkap Jen mengenai kekuatirannya.

“Aku ndak nyalahkan Bibi yang telah bercerita, karena anggapannya, Mama telah menceritakan hal ini kepada kami anak-anaknya. Seperti yang dilakukannya kepada anak-anaknya Bibi. Karena Bibi selalu menceritakan hal apa yang telah dialaminya dahulu kepada anak-anaknya agar anak-anaknya belajar dan tidak mengulangi hal yang sama,” ceritaku kembali kepada suamiku yang merupakan mantan kekasihku juga.




Suamiku berkata,”Benar itu, kita harus menceritakannya kepada anak-anak kita agar mereka juga tidak melakukan hal yang salah seperti kita.”

“Betul, Mas, tapi harus pada umur yang tepat,” ujarku menyetujuinya.

Mereka memutuskan untuk berdoa bersama untuk hal ini. Dan walaupun telah sering Jen dan suaminya berdoa dan meminta ampun atas yang dosa terlarang yang mereka lakukan tapi sekali terasa tidak cukup untuk meminta ampun, karena terasa seperti kemarin jika mereka mengingatnya kembali.

Jen dan suaminya berdoa bersama meminta ampun atas dosa mereka dahulu dan meminta ampun untuk orangtua Jen juga, serta memohon untuk menjaga anak-anak mereka dengan bantuan Tuhan dan memberikan hikmat pada anak dan mereka sebagai orangtua mereka.

Jen mengasihi kedua orangtuanya, dan melihat suatu beban berat karena segala perasaan dosa yang telah mereka pikul dan melihat anak-anak mereka mengalami hal yang sama dengan yang mereka alami makin memberatkan mereka. Makin menyadari beban mama dan papanya bukan hanya itu saja, tapi juga pandangan dan cibiran orang terdekat baik saudara maupun tetangga atas yang telah orangtua Jen lalui. Semua hal yang diketahui Jen makin membuka pikirannya dan Jen makin mengerti segala kesulitan yang dialami oleh orangtuanya.

“Ya, Tuhan…ampunilah kedua orangtuaku, biarlah beban mereka tidak dipikul oleh mereka sendiri, tapi diserahkan hanya kepada Engkau saja. Karena Engkau Maha Pengasih dan Penyayang pada kami semua,” doa Jen untuk orangtuanya.

Ada satu kalimat yang membuat saya tercengang ketika membaca buku Richard Sigmun yang menceritakan pengalamannya ‘Sewaktuku di Surga‘ adalah:
“Saya diberikan pengertian bahwa ketika kita bertobat, semua yang telah kita lakukan  yang adalah perbuatan atau berdosa, secara alamiah dan dicatat dalam buku-buku itu dihapus selamanya. Tak seorangpun dapat menemukan catatan itu termasuk Tuhan.”

Tapi hal itu terjawab sudah oleh tulisannya masih dalam buku yang sama, yaitu: “Tuhan dalam Kasih-Nya yang tak terbatas, memastikan bahwa tak ada apapun yang hilang. Kasih Tuhan sedemikian besar sehingga tak seorangpun dapat mengetahui semuanya.”

Amin