Pagi hari ini, anakku yang paling kecil tiba-tiba mengeluh sakit perut. Duh…jika anakku ini sakit terasa dunia mau runtuh, tapi tetap harus menjaga ketenangan hati agar tindakan tetap masuk akal.

Anakku ini memang jika sakit selalu saja terlihat sangat menderita dan pucat raut wajahnya. Apalagi bungsu, dan kecil badannya. Tapi hati yang tenang tetap jawabannya.

Sambil berdoa dalam hati, saya mengingat-ingat, apa yang dia makan  kemarin? Ah,…rasanya bukan jajanan atau makanan yang beli di luar (kami jarang makan dilluar), hanya tempe goreng dan sop bakso ayam.

Kemudian saya ingat bahwa ade bobo dengan papi-nya. Dan tempat tidurnya langsung terletak dibawah air conditioner (AC) dan semalam tidak menggunakan selimut. Ah…pasti ade masuk angin.

Benar saja, anakku kemudian muntah, muntahnya air, yang tadi diminumnya.




Solusi hanya satu, obat untuk mencegah muntah berlanjut, vometa. yang kemudian saya berikan satu sendok sesuai takaran dan menunggu 15-30 menit untuk makan dan minum. Selain itu diborehkan minyak kayu putih pada perut dan punggungnya.

30 menit kemudian, saya kembali menanyakan apakah ade mau makan? ia bilang mau, tapi perut masih sakit. Saya beri minum dan menyiapkan untuk makan paginya. Tapi kemudian anakku muntah lagi, kasihan sekali rasanya melihat ade muntah, kemudian ade bilang, mau makan tapi nanti tunggu sembuh.

Saya turuti keinginannya, memang jika ada racun atau tidak enak pada tubuhnya, biar saja dimuntahkan, Saya temani sambil saya melakukan olah raga.

Eh, nonton mami olah raga, ade jadi sembuh, tertawa-tawa katanya pantat mami lucu. Hehehe….senangnya lihat ade kembali ceria.

Tak lama kemudian ia mau makan, dan tetap ceria…walaupun suhu tubuhnya 38 derajat celcius, tapi obat penurun panas sudah diberikan.

Sekolah libur dulu 1 hari….