Sudah banyak pekerjaan yang tertunda, dan salah satunya adalah membuat posting baru.

Tak disangka ketika melihat ke beberapa file lama di komputer, terdapat puisi yang dibuat pada tahun 2005, mengenai kegelisahan hatiku saat ditinggal oleh pembantu.

Selama ini saya selalu “berteman” dengan pembantu yang bekerja dengan saya, saya selalu menganggapnya bagian dari keluarga saya.

Pertama semenjak aku tinggal sendiri sambil membuka usaha, pembantu ku bernama Atun, dia anak yang baik, kecil, mungil dan jujur. Bekerja dengan ku selama dua setengah tahun, Atun kemudian beralih menjadi buruh di suatu pabrik atas kehendak orang tuanya. Dan kini dia sudah memiliki seorang anak dan menetap di kampungnya.

Yang kedua, bernama Ita, dia anak yang enerjik dan mempunyai keinginan yang kuat. Nah……….., yang kedua inilah yang ku buat puisinya, Tuhan sangat mencintaiku judulnya.




Ita pergi dengan cara yang tidak mengenakkan hati setelah bekerja 2 tahun bersamaku. Sedih, marah, kecewa campur aduk di hati. Tapi saya melihat disitu Tuhan menyayangi saya,  dengan membiarkan dia pergi.

Kadang dalam kesusahan dan kesulitan, kita justru berpaling dan melihat pada kasih dan kebesaran Tuhan yang terpancar terus menerus tiada henti. Jadi jangan menggerutu saat susah ya…

Puisi itu dibuat ketika saya letih membereskan rumah, dan meladeni anak yang masih bayi…

Mau tahu apa yang terjadi dengan Ita???

Dia sekarang menjadi TKW di Arab Saudi dan sudah membangun rumah di kampungnya.

Tuhan memberkati kalian semua…