Pernahkah mendengar cerita mengenai seorang pria yang sedang putus asa dan membutuhkan Tuhan? Ketika ia meminta tnda kehadiran Tuhan tapi pria itu tidak menyadarinya karena Tuhan muncul bukan dengan cara yang diinginkan pria tersebut.

Tuhan memberikan tanda melalui kupu-kupu yang hinggap dilututnya, tapi pria itu mengebaskan tangan untuk mengusirnya.

Tuhan memberikan tanda lewat hujan, tapi pria itu masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya

Tuhan hadir dalam wujud seseorang yang mengetuk pintu rumahnya tapi pria itu tidak menggubris dan menutup kembali pintunya.

Begitu banyak kehadiran Tuhan akan jawaban doa yang terus hadir berseliweran dalam hidup k ita, tapi kita tidak menyadarinya karena hal itu tidak seperti ‘yang dibayangkan atau diharapkan’.

Saya pernah mengalami ini, ketika terjadi konflik dan rasa sakit yang dalam dengan saudara yang sangat saya kasihi. Rasa hati yang perih dan bertanya mengapa? justru memperburuk keadaan dan hubungan dengan saudaraku itu. Menceritakan kepahitan pada suamiku berulang-ulangpun tak berguna, karena pada akhirnya suamiku bosan dengan hal yang itu-itu saja tidak selesai-selesai.

Hal ini terus bergelayut di hati ini dalam diam, luka yang tak pernah sembuh, padahal aku dan saudaraku itu  masih berada di bawah matahari yang sama. Hingga suatu saat saya membawanya dalam doa dengan menangis sedih pada Tuhan.




Suatu saat seorang ibu mantan tetangga yang sudah pindah komplek rumah, dan berbeda keyakinan dengan saya, datang berkunjung hanya beramah-tamah sambil menawarkan apa yang dijualnya.

Sebenarnya hati ini sudah berkata, “Ah…paling nawarin barang, ya sudahlah didengarkan dahulu, kasian..” Ibu ini memang orang yang gigih dalam berusaha dan tidak pernah malu dalam menawarkan apa yang dijualnya.

Pembicaraan kami sampai di titik mengenai hubungan ibu ini dengan keluarganya, (ibu ini berbicara lebih banyak daripada saya yang hanya mendengarkan). Beliau kemudian menasehati saya bagaimana menghadapi saudara yang telah menyakitinya, yaitu dengan berbuat baik.

“Kalo saudara lu udah berbuat jahat, jangan justru ndak dateng maen lagi ke rumahnya, juustru tetep dateng, bawa makanan, sapa kabarnya, kalo dia masih erus-terusan mengeraskan hati, jangan undur, teruslah berbuat baik, pasti nanti juga berubah menjadi baik dan ramah.”

“Kalo situ punya baju bayi bekas anak-anak yang sudah tidak terpakai ya berikan kepada yang membutuhkannya, jangan disimpan saja.”

Dua kalimat itu begitu mengena pada diri saya, karena saat itu hati saya pun sedang sedih karena mengingat yang menyakitkan itu.

Tuhan tidak pernah diam, dan Ia selalu menjawab doa kita dan menasehati juga memberikan penghiburan kala kita susah, sedih ataupun menangis, kita hanya perlu membuka hati dan mata kita lebar-lebar untuk elihat dan menjadi peka akan kehadiran-Nya. Karena Yang Maha Hadir dapat hadir dalam diri siapapun dan bentuk apa pun, bahwa kehadiran-Nya akan selalu membawa kebaikkan bagi yang mengasihi-Nya.