Hari yang sejuk, dan bau tanah yang basah membuat kesegaran tersendiri dalam diri Jenna. Anak-anak sudah bersekolah, dan seperti hari-hari yang lain Jenna segera membereskan dapur yang berantakan karena mempersiapkan bekal untuk anak-anaknya. Dengan sepenuhnya dibersihkannya potongan sayur dan nasi yang berserak dan dicucinya satu persatu. Ini adalah hari yang sama, hari yang sama dengan hari-hari yang lain.

Tugas sehari-hari memang tidak pernah jauh dari Jenna sebagai ibu dengan dua anak yang masih duduk di sekolah dasar. Menyiapkan anak-anak untuk bersekolah, mengingatkan mereka, membuat bekal yang menarik serta mencium dan mendoakan mereka. Sungguh luar biasa hal ini dilakukan dengan sepenuh hati dan rutin dalam diri Jenna untuk keluarga tercinta.

Tak terasa sudah saatnya waktu untuk menjemput anak-anaknya, maka segera saja Jenna melaju dalam kendaraan menuju ke sekolah anaknya yang tidak jauh dari rumah. Pikirannya mengalun dengan lagu yang dinyalakan melalui radio di kendaraan, terkejut Jenna dengan dering telpon, “Ya, hal..,” sahut Jenna. Diseberang suara kakak Jenna setengah berteriak, “ Jen, papa kecelakaan!” Seperti angin dingin yang memasuki dadanya, Jenna terkesiap.

“Ah.., jangan bercanda. Papa kecelakaan dimana?” Jenna berujar sambil berusaha menenangkan hatinya, sambil berusaha menepikan kendaraannya.
“Buat apa, gue bohong untuk hal kayak gini…, Papa kecelakaan”, sahut Lesti, kakak Jenna.

Seketika itu Jenna menghentikan laju kendaraannya dan menegaskan kembali mengenai berita kecelakaan ayahnya, “Kecelakaan dimana?” terlintas di pikirannya kemungkinan ayahnya kecelakaan ketika turun bis umum atau mungkin ketika menyeberang, tapi pikiran itu terhenti oleh teguran Lesti, “Lu, gimana sih yang ada di kota yang sama malah tidak tahu!”

“Loh, setahu Jen, Papa bukannya ada di tempat Widi? Akan operasi SWL di rumah sakit. Mengapa bisa kecelakaan?”

“Tidak jelas sebab nya, tapi sekarang Papa di bawa ke Rumah Sakit Siloam dengan ambulans bersama Widi,” Lesti kembali menjelaskan, “Coba, lu telpon ke Widi.”

“Ok,” sahut Jenna yang segera mematikan telpon tanpa berbasa-basi lagi. Ditekannya nomor Widi, sekali, dua kali dan tidak ada jawaban. Jenna sangat gelisah, dan dicobanya sekali lagi nomor Widi, telpon terjawab. Tapi Widi tidak menjawab, hanya terdengar raungan sirene ambulans yang sangat keras. “Halo…Halo…Halo Wid, “ sahut Jenna yang tidak terdengar sedikitpun suara Widi. Segera saja ditelponnya suami Widi, Alex untuk menanyakan kebenaran hal itu.

“Halo, Ko Alex, ini Jenna.”
“Halo Jen”, sahut Alex



Langsung saja Jenna bertanya, “Memang Papa dibawa ke rumah sakit? Ada apa?”
“Iya, Jen. Papa dibawa ke rumah sakit Siloam karena jatuh di kamar mandi.”

Maka segera saja, telpon ditutup oleh, Jenna. Dengan dada berdegup kencang, berkelibat cepat ketika pertemuannya terakhir dengan ayahnya di rumah Widi di hari Minggu, dua hari yang lalu. Ayah terlihat sehat dan senang. Dalam hati doa dipanjatkan, “Ya Tuhan, tolong Papa.”

Jenna segera mengemudikan kendaraannya ke sekolah anak-anaknya, setibanya disana ia memberitahukan kepada suaminya kabar mengenai ayahnya. Dan sesampainya kami di rumah, kami segera menyusul ke UGD Rumah Sakit Siloam.

Perjalanan terasa sangat panjang dan lama sekali. Anak-anak pun ikut terdiam di dalam mobil. Suami Jenna mempercepat laju mobilnya diantara kepadatan kendaraan.

Sesampainya disana Jenna segera turun dan berlari menuju ruangan UGD, dilihatnya kakaknya Widi sedang menelpon dari kejauhan. Didekatinya Widi dan terlihat sekali guratan kekalutan di wajahnya. Jenna segera menanyakan, “Bagaimana, Papa?” Widi hanya menunjuk ke dalam UGD tanpa melepaskan pembicaraannya yang terlihat sangat penting, Jenna berlari masuk ke dalam UGD, sambil bertanya kepada salah satu perawat disana, “Dimana Bapak Sutrisno?” Perawat tersebut menunjuk kesalah satu bilik yang tertutup.

Jenna berjalan cepat menuju kesana dan menengok ke dalamnya. Dilihatnya ayahnya terbujur tak bergerak dengan mata menatap kelangit-langit dan mengenakan pelindung leher. Jenna mendekati pelan-pelan, “Pa..?” ujar Jenna dengan perlahan. Ayahnya hanya melirik dengan sudut matanya dan berkata, “Jen, Papa tidak bisa menggerakkan tubuh Papa, Jen.”

Secepat itu, kehidupan ayah Jenna berubah, dari seorang yang gagah, aktif dan enerjik serta penuh semangat, berubah menjadi tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit.

Peristiwa orang tua yang terjatuh di kamar mandi sangat tinggi di Indonesia, apalagi budaya disini dengan kamar mandi yang menggunakan bak penampungan sehingga selalu basah dan menjadi icin jika tidak selalu dibersihkan