Jen menhela nafas, kali ini jantungnya berdebar dengan kencang. Dipandangi saja komputer yang menyala di depannya. ‘Duh, kenapa sih aku tidak bisa sabar jika meladeni papa?’ ujar Jen dalam hatinya.

“Huh, pekerjaan yang enak dilepas begitu saja untuk memperoleh tai,” ujar papa lewat telpon tadi sewaktu membicarakan mengenai salah satu anaknya yang memutuskan untuk pindah ke Kanada, Anissa.

“Suami Anissa itu kan biasa hidup enak, tapi dia melepaskan hidup enaknya dengan pindah ke Kanada dan menjadi kuli disana,” papa kembali berujar dengan kata-kata yang sinis.

Jen seharusnya diam saja dan tidak perlu menjelaskan kepada papa, mengenai pemikirannya yang salah itu dan tentunya akan merusak dan membebani diri ayahnya.

Tapi Jen tidak tahan, ia berujar, “Sudahlah, Pa. Anissa kan sudah dewasa. Ia sudah mengambil keputusan itu, ya sudah.”




“Lagipula disana pekerjaan sebagai kuli tidak dihargai rendah seperti di Indonesia. Karena mereka memperhatikan kesejahteraan seluruh penduduknya.

“Jadi jika disini gaji orang yang bekerja di kantor misalnya 30 juta dan gaji kuli hanya 1 juta, maka di Kanada gaji orang kantoran anggaplah sama 30 juta, maka gaji kuli tidak akan beda jauh bisa jadi 20-25 juta,

Janglah bilang TAI, pa, bagaimanapun Anissa kan anak Papa juga,” ujar Jen menjelaskan dengan maksud menenangkan ayahnya agar tidak melulu memikirkan Anissa.

Tapi penjelasan Jen justru membangkitkan amarah ayahnya, “Lu  tahu apa, bicara dengan lu emang susah…, tidak mengerti maksud Papa apa!”

“Pa, Jen hanya tidak ingin papa berpikiran buruk mengenai anak sendiri, Anissa juga kan sudah besar,” Jen berusaha menjelaskan maksudnya lagi, tapi perkataannya terputus.

“Arghh…sudahlah, bicara dengan elu memang susah,” ujar ayahnya dengan keras seraya menutup pembicaraan segera tanpa memberi kesempatan pada Jen lagi untuk berbicara.




Perasaan Jen merasa tidak karuan, marah, kecewa, sebal ‘Kok Papa tidak pernah berubah menjadi bertambah dewasa sedikit saja dalam hidupnya.’ Tapi sekaligus juga rasa menyesal,’Mengapa aku tadi tidak diam saja dan mendengarkan keluh kesah papa ya?’

‘Mungkin, Papa hanya ingin mencurahkan isi hatinya.’
Pertarungan antara ego dan kasih dalam pikiran Jen. Dan kasih seharusnya lebih menang dari ego, karena kasih yang utama dari segalanya.

‘Lebih baik aku menghindari pertemuan dan selisih pendapat seperti ini dengan papa,’ ujar Jen lagi-lagi dalam hatinya.

Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kita lebih cepat mendengar dan lebih banyak diam.