Jen membantu mamanya naik ke dalam bengkel, mobil kijang innova papa perlu balancing. Didorongnya kursi roda mama dan diarahkannya ke ruang tunggu yang nyaman yang telah disediakan.

Jen duduk di sebelah mamanya setelah memasang rem kursi roda itu. Begitu menyenangkan sekali rasanya duduk disebelah mama, merasakan hangat tubuhnya, membelai kulitya yang kisut, bercanda dengan nya dan mendengar tawanya. Semuanya terasa sangat menyenangkan.

Kami menghentikan percakapan hangat kami, dan melihat seorang anak muda, berumur tiga puluh tahunan, mengenakan baju yang sederhana dengan jaket yang sudah luntur warnanya, mendekati ruangan tunggu. Ditangannya dijinijing sebuah keranjang plastik yang tertutup kain. Kami berdua menduga, bahwa ini tentu makanan.

Lelaki itu menghampiri kami dan berjongkok sambil membuka keranjang plastiknya yang berisi makanan, sperti gorengan risoles dan pastel. “Pastel dan risolnya, bu..” Ujar lelaki penjual makanan itu. Mata sipitnya menatap lesu, sambil tangannya telah menyiapkan selembar palstik putih untuk wadah makanan.

Seperti biasanya, Jen mencolek mamanya di dekat ketiak dan di pinggangnya sebagai tanda untuk tidak membelinya, karena mama memang harus mengurangi berat badannya dan menghindari goreng-gorengan untuk kebaikan mama. Mama tdak meladeni colekan itu, ia tetap menatap lelaki muda itu dan berniat untuk membelinya. Sekali lagi Jen mengingatkan, “Ma, tidak usah beli.”

Tapi mama, tetap membeli makanan yang ditawarkan lelaki itu, 2 risol dan 2 pastel, membayarnya.

“Ah, mama. Kenapa sih mama harus beli makanan itu? Kan rasanya juga tidak enak…”

Mama diam sejenak dan menjawab, “Ini bukan hanya untuk mama saja, ini bisa juga untuk Yadi.” Ujarnya sambil mencoba secuil makanan yang dibelinya. “Apa Jen tidak kasihan dengan penjualnya?”

Perkataan mama membuat saya tercenung…

Mama melanjutkan, “Cobalah untuk membeli walau sedikit dari tiap orang yang menawarkan jualannya kepada Jen, karena tidak ada yang tahu apa yang sudah dilalui oleh dia.”

Jen terdiam, dan membagi makanan itu dengan Yadi, supir mama, yang telah menanti di dekat mobil sejak tadi.

“I Love You, Mama.”