Senang sekali rasanya jika anak akan bertambah umurnya satu tahun lagi, anak makin besar dan pandai. Sudah seperti biasanya menjelang ulang tahun, anak-anak akan menyatakan apa yang diinginkannya sebagai hadiah ulang tahun. Kadang saya mengabulkannya, kadang juga tidak. Tergantung dari permintaan anak.

Anak bungsu ku ini meminta mainan di usianya yang memasuki 9 tahun, dan mainan abadi yang dimintanya dari tahun ke tahun selalu sama, yaitu dinosaurus.

Kali ini jagoanku meminta Spinosaurus, yang kepala dan kakinya bisa digerakkan, katanya menambahkan persyaratan. Mulai deh, saya mem-browsing diam-diam, untuk men-cek harga. Mainan Spinosaurus buatan Hasbro ini cukup mahal. Seperti biasa dimulai petualangan belanja online untuk mencari hadiah ulang tahun yang setipe tapi dengan harga yang lebih murah.

Hadiah ulang tahun akhirnya ditemukan, dan hadiah itu tidak harus mahal, namun memiliki keseruan yang sama dengan permintaan anak. Mukanya terlihat senang dengan hadiah yang didapatnya. Makan tak heran mainan tersebut menemani selalu, saat tidur, saat sekolah dan saat mengikuti lomba Minecrafts.




Anak-anak sangat girang ketika mengikuti lomba Minecrafts yang diadakan di JCC, Jakarta tanggal 19 Maret 2017, kemarin. Walaupun mereka tidak memenangkan lomba tersebut namun kesan dan pengalaman terutama hadir di tempat yang berbeda sudah menyenangkan mereka.

Namun kegirangan itu berganti menjadi kehilangan, saat anakku menyadari bahwa mainan Spinosaurus yang merupakan hadiah ulang tahunnya tertinggal di tempat lomba bersamaan dengan tas pinggang kesenangannya yang berbentuk Hiu. Walau saya sudah menghubungi pihak penyelenggara Lomba Minecrafts, pihak Event Organizer dan pihak JCC, Jakarta, namun semua belum membuahkan hasil.

Setiap malam, anak ku itu berdoa. Mendoakan Spinosaurus yang hilang yang telah diberi nama, Duri. “Tuhan, tolong kembalikan Duri, maafkan aku karena sudah teledor,” ucapnya dalam doa malam. Saat mendengar doanya, hati rasanya terenyuh. Lalu berusaha menjadi erpanjangan tangan Tuhan untuk membantu anakku menemukan hadiah ulang tahunnya yang hilang. Dengan menghubungi pihak terkait dan mendoakan kejujuran untuk semua yang terkait. Bukankah kejujuran itu sangat langka terutama di Indonesia ini.

Langka bukan berarti tidak ada. Seperti pengalaman beberapa tahun lalu, suami kehilangan dompetnya ketika berkendara motor di sekitar komplek. Lalu menjelang sore, datang 2 orang lelaki yang mengantarkan dompet itu. Mereka ternyata pedagang buah pepaya di pinggir jalan komplek perumahan kami. Bukan kepalang leganya, dan sampai sekarang saya menjadi salah satu pelanggannya.




Siapa saja yang menemukan barang bagus tergeletak di suatu tempat pasti akan tergoda mengambil dan menyimpannya untuk diri sendiri, dengan dalih lumayan. Terutama jika barang yang ditemukan berupa uang atau handphone. Kakak saya bercerita ketika ia melakukan perjalanan di sebuah kota di Kanada. Saat itu ia dan keluarganya menggunakan fasilitas umum, Bus, dan tertinggal kamera. Sudah pasrah saja, bahwa kamera tersebut telah hilang, tapi kakak saya tetap melaporkan kehilangan sebuah kamera pada kantor polisi setempat, keesokan harinya. Ajaib dan kagum luar biasa, ternyata ada yang menyerahkan kamera tersebut ke kantor polisi, karena menemukannya di dalam bus.

Apakah mungkin tas pinggang dan mainan anakku akan kembali? Semoga saja