Pagi ini terbangun dengan perasaaan yang kelabu, padahal hari ini adalah hari yang istimewa untuk ku. Usia bertambah, pengalaman bertambah, anak bertambah dewasa dan kasih makin meluas. Yang diinginkan sebagai hadiah ulang tahun ku yang kesekian kalinya hanya tidur dan dimanja, terutama oleh pasangan. Bagiku hal tersebut seperti hadiah ulang tahun dari surga, namun lelaki yang menjadi pasanganku ini tidak memberikan hadiah yang diharapkan…

Lalu…apakah kemudian saya perang dengan suami karena hal ini? Tenang…ini bukan sinetron Indonesia yang selalu menebar perang dan iri hati. Lalu…Apa yang dilakukan? Saya hanya tidur lagi setelah semua tugas saya selesai.

Dalam tidur pagi inilah keasyikan dimulai, dimana saya bermimpi berlarian di padang rumput, dengan cuaca yang sangat sejuk, memetik buah apel langsung dari pohonnya dan hebatnya disana ada Mama dan Yesus. Banyak yang berkata bahwa mimpi di siang hari tidak ada artinya, namun bagi saya ini bukan mimpi, namun hadiah ulang tahun dari surga untuk ku.

Dalam hadiah yang terindah ini, Mama hanya memandang saya dari kejauhan dan tersenyum akan tingkah polah saya yang seperti anak-anak lagi. Saya berlarian dengan sangat cepat menuruni bukit yang dipenuhi dengan rumputan hijau, kemudian berlarian lagi ke atas bukit, kemudian berlari sekencang-kencangnya menuruni bukit, demikian terus berulang-ulang. Seakan tidak mengenal lelah dan tidak ada rasa sakit pada kakiku.

Diatas bukit itu terdapat satu pohon apel yang berbuah lebat, dan buahnya yang ranum merah kekuningan itu menjuntai ke bawah. Jauhnya hanya sejangkauan tangan saja, dan rasanya luar biasa. Tangan saya bisa merasakan dingin segar buah apel tersebut di jari tangan ini, dan bunyi renyah yang terdengar begitu gigitan pertama. Suara gigitan itu keras sekali terdengar di telinga. Letusan rasa asam manis mengalir di dalam mulut dan mengalir keluar dari sudut bibir saya…
Saat itu saya segera terbangun, dan menyadari ada ecesan di sudut bibir. “Hah cuman mimpi ya…”Ujarku dalam hati.

Di lap nya sudut bibir yang basah oleh ecesan itu dengan lengan baju, rasa kantuk masih ada dan mata ini terpejam lagi. Tak disangka mimpi berlanjut…




Kali ini saya duduk bersama dengan mama dan Yesus, saya banyak bercerita mengenai hal-hal yang saya lalui. Mama hanya tersenyum dan sesekali melihat kepada Yesus. Perbincangan ini terhenti oleh suara dengung yang keras, dari balik bukit. Saya dan mama menatap ke arah bunyi itu…
“Apa yang sedang terjadi, Ma?”
Mama diam dan hanya menggelengkan kepalanya, menandakan jawaban akan ketidaktahuannya akan bunyi tersebut.
Yesus kemudian bangkit berdiri, dan seketika itu juga hadir malaikat-malaikat berkumpul di dekat Yesus. Mereka berbaris dengan tegap dan anggun, mengawal Yesus meninjau lokasi.
“Loh, kok mirip pejabat di Indonesia yang meninjau lokasi…” kata ku dalam hati.

Tiba-tiba Yesus menghentikan langkahnya dan memandang kearah kami, seakan Yesus mengetahui perkataan yang kukatakan di dalam hati. Ia hanya memandang kepada Mama, dan Mama balas memandangnya.
“Hey…Apa yang dikatakan-Nya? Mereka seperti berbicara…” Aku berujar dalam hati keheranan.
Yesus kemudian beralih pandangan-Nya kepada ku. Matanya yang sejuk itu menatap langsung ke mata ku, terasa seperti sergapan yang menyejukkan hati. Kami saling bertatapan, Yesus kemudian tersenyum, dan melambaikan tangan-Nya, menandakan untuk aku melanjutkan perbincanganku dengan mama.

Aku terpana dengan semuanya, segala warna putih yang bersinar bersih dari diri Yesus, namun kepenuhan segala warna cerah hadir disana. Lengan jubah Yesus yang melambai dan bergoyang sungguh memukau. Kaki Yesus melangkah dengan ringan, dengan sandal yang bertali berwarna coklat tanah terlihat ketika Ia melangkah menuju ke bunyi suara tersebut diiringi oleh malaikat-malaikat.

Aku tersadar dengan sentuhan mama di tanganku. Ku tatap wajah mama, hey…mama terlihat sangat segar, dengan pipi yang membulat ketika senyuman menyungging di bibirnya. Mataku seketika menjadi ceria, melihat mama kembali…Kubalas sentuhan tangan mama dengan mengenggam erat tangan mama dan tersenyum bersama.

Bibir mama terpaut diam, namun suara terdengar dalam di kepalaku, suara mama…
“Yen, jangan menyia-nyiakan kehidupan yang telah diberikan kepada Yeyen.”
“Janganlah membuat apa yang mama lakukan selama di dunia menjadi sia-sia.”
Nasihat itu…begitu mengena dalam hatiku, air mata menggenang di sudut mataku.

Kemudian mama berdiri dari duduknya, dan masih dengan mulut yang terkatup, suara itu terdengar lagi, “Mama harus pergi…” Kemudian ia mengangkat tangannya untuk memelukku, pelukan yang sama yang aku rasakan selama 40 tahun hidupku. Pelukan hangat mama.

“I love you, Ma.”
“I love you too.”