Perahu Kertas di Bulan Desember

Perahu Kertas Desember

Terbangun di dini hari adalah hal yang sangat biasa, terutama jika hendak menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak sekolah. Tapi memasuki bulan Desember, di dini hari ini perasaan Jen berbeda.  Bersujud kepada Tuhan Allah dan mengucapkan syukur dan meminta penjagaannya, Jen teringat saat ia masih kecil dan gemar menyalakan lagu Natal di bulan bukan bulan Desember.

“Argh, Lihat hujan turun lagi,” seru Jen dalam hatinya sambil menatap ke teras depan melalui pintu rumahnya yang hanya terbuat dari kayu dan kawat sederhana. Ditariknya dingklik dari kayu yang sudah usang untuk duduk dekat pintu rumahnya sambil menatap jatuhnya air ke tanah dan memercik kembali. Membasahi tanah hitam yang kering.

Adalah pemandangan yang luar biasa melihat hujan turun dan mencium bau tanah kering yang terkena air hujan, sangat segar dan syahdu menurut Jen. Bulan Desember selalu istimewa, dimana cuaca menjadi lebih sejuk karena hujan, dan juga dekat dengan perayaan Natal.




Dicarinya kertas bekas dari programma yang sering terselip dalam koran harian papa. Dirobeknya sebagian dan dibuatkan perahu kertas. Air hujan telah mengalir dengan deras ke selokan depan rumah. Bentuk aliran air hujan itu meliuk diatas tanah hitam, mirip seperti sungai-sungai di pedalaman yang liar. Mantel kain flanel yang dibuat mamanya buatan mamanya dilepaskan, seraya berlari keluar, Jen membawa perahu kertas itu dan bermain riang dibawah derasnya hujan.




Jen mengatur perahu kertasnya yang seakan-akan melewati badai yang gemuruh dan sesekali terhenti oleh batu yang menghalangi. Tangan Jen menggapai dan membantu perahu kertas itu untuk terus dapat melaju menuju selokan dekat jalan di depan rumahnya.

Perahu kertas itu masuk melewati gorong-gorong besar, melaju bersamaan dengan derasnya air hujan. Jen berteriak ke perahu kertasnya, ” Yeah….terus melaju perahuku!” Tikus-tikus terkejut dengan keberadaan perahu itu. Mereka bercicit satu sama lain, seakan berkata; “Benda apa itu? Pasti sampah yang dibuang oleh manusia lagi.” Tak memperdulikan suara cicitan itu, perahu kertas terus melaju.

Melalui kelokan, sudut yang terjal dan sampah-sampah yang lain. Perahu itu terhempas dan terayun di atas air. Sesekali berbenturan dengan benda lainnya dan terhempas oleh 2 pertemuan titik aliran air hujan.

Air mulai masuk ke dalam perahu kertas dan mempengaruhi kondisi kertas itu. Perahu itu mulai terkoyak, sudut-sudut lipatannya terbuka. Bentuk mulai melbar dan perlahan tenggelam bersama dengan sampah yang lainnya. Membaur dan bercampur dengan air, dan lama kelamaan berubah menjadi bubur kertas dan hanyut oleh air, menuju ke laut.

Perahu kertas itu tidak pernah sampai tujuannya, tapi perahu itu merubah bentuknya menjadi bubur kertas yang kecil-kecil dan sampai pada tujuannya laut, seperti yang dikhayalkan Jen.

Kini puluhan tahun telah berlalu, perahu kertas itu tak pernah dilupakan. Tidak pernah lagi bermain dengan perahu kertas di bawah derasnya hujan. Jen menatap ke jendela dari ruang kerjanya, melihat awan yang telah bergulung hitam dan angin yang mulai bertiup seakan menandakan sebagai pembuka hujan.

Selamat datang hujan, selamat datang Desember.