Singkong, makanan yang kaya dengan karbohidrat kompleks, serat, kalium dan vitamin C, maka tak heran banyak dikonsumsi pada saat berbuka puasa. Sebagai sumber penambah stamina, singkong banyak dikonsumsi ini memiliki keunggulan tambahan untuk melancarkan pencernaan dan menjaga tekanan darah.
- Manfaat singkong bagi tubuh dan kantong
- Kandungan serat dan pati resisten mencegah sembelit serta menyehatkan bakteri baik di usus.
- Mengenyangkan lebih lama
- Serat kompleks memperlambat pencernaan sehingga nafsu makan terkontrol dengan baik.
- Mineral kalium membantu mengendurkan pembuluh darah dan membuang kelebihan natrium.
- Antioksidan dan vitamin C melindungi sel kulit dari kerusakan serta penuaan dini.
Namun, singkong mengandung racun yang sangat berbahaya bagi tubuh, racun itu sendiri dihasilkan oleh singkong sebagai mekanisme pertahanan alami singkong. Singkong mengandung glikosida sianogenik, terutama linamarin (89%) dan lotaustralin, yang akan berubah menjadi hidrogen sianida atau asam sianida yang merupakan racun bagi tubuh manusia.
Ada 2 jenis singkong yang ada, walaupun keduanya sama-sama mengandung racun, tapi memiliki kadar yang berbeda.
1. Singkong manis yang sering diperjualbelikan di pasar, memiliki kadar sianida yang rendah, yaitu kurang dari 50 gr setiap kilogram.
2. Singkong pahit atau ubi racun, memiliki kadar sianida lebih tinggi, sekitar 50gr sampai 400gr setiap kilogram. Dan singkong ini digunakan untuk industri tepung tapioka atau pakan ternak dengan pengolahan yang tepat dan ketat untuk membebaskan dari racun.
Racun sianida dalam singkong dapat dengan mudah larut dalam air dan menguap pada suhu panas. Singkong manis dapat dikonsumsi dengan aman hanya dengan beberapa proses, seperti; mengupas kulitnya deangan bersih, merendam singkong yang telah dipotong-potong dalam air garam dan memasaknya hingga matang sempurna.
Namun untuk lebih waspada, perlu mengenali gejala keracunan singkong, yang biasanya muncul 3 sampai 7 jam setelah konsumsi dalam keadaan mentah. Dengan gejala ringan kategori awal, berupa; pusing, sakit kepala, mual, muntah, serta lidah terasa kebas. Sedangkan gejala berat berupa; jantung berdebar, sesak napas akut, otot kejang, penurunan tekanan darah, koma, hingga kematian.
Lalu bagaimana membedakan singkong manis yang layak konsumsi dan singkong pahit? Ada beberapa hal yang bisa menjadi perhatian dalam memilih singkong, yaitu:
1. Warna Kulit Ari (Lapisan setelah Kulit Luar)
– Singkong Manis: Jika kulit luar dikelupas sedikit, kulit arinya berwarna kemerahan, merah muda (pink), atau kekuningan. Kulitnya juga cenderung lebih tipis dan sangat mudah dikupas menggunakan tangan.
– Singkong Pahit: Kulit arinya cenderung berwarna putih tipis atau keperakan. Kulitnya biasanya lebih kaku, tebal, dan lebih sulit dikelupas secara instan
2. Penampakan Daging Bagian Dalam
– Singkong Manis: Daging umbinya berwarna putih mulus bersih atau kuning mentega tanpa cacat. Tekstur dagingnya terasa basah/berair saat dipotek.
– Singkong Pahit: Permukaan dagingnya putih, tetapi kerap disertai bintik-bintik atau serat urat kecil berwarna kebiruan/keabu-abuan. Semburat biru ini menandakan konsentrasi asam sianida yang tinggi.
3. Kadar Getah pada Ujung Potongan
– Singkong Manis: Jika ujungnya sedikit disayat, akan mengeluarkan getah putih kental yang cukup banyak. Ini menandakan singkong masih muda, segar, dan aman.
– Singkong Pahit: Umumnya memiliki kadar air yang sangat tinggi, namun getah alaminya cenderung lebih encer atau justru kering jika sudah disimpan.
4. Bentuk Fisik Umbi yang Ideal
– Singkong Manis (Kualitas Bagus): Berbentuk lurus gembung di bagian tengah dan mengecil di bagian ujungnya. Ini menandakan umbi siap panen dan teksturnya pulen.
– Singkong Pahit: Bentuknya sering kali tidak beraturan atau terlalu lurus panjang dengan ukuran diameter yang seragam dari ujung ke ujung.







