Seberapa sering kamu melihat mama-mu menangis? Tangisan mama yang tidak dapat dipahami oleh kita saat itu, namun begitu membekas di hati? Saya yakin sebagian dari Anda juga adalah seorang ibu atau orang tua, yang pernah menjadi anak dan remaja, terlepas dari baik atau nakalnya kita semua, namun orang tua kita selalu menjaga dan menyayangi dengan tulus.

Berikut adalah arti tangisan mama dalam kisah kehidupan

Saat itu jalan sangat macet dikarenakan ada acara wisuda di gedung JHCC di bulan ke-dua tahun 1998, aku menggerutu, “Duh sudah terlambat ini.” Kakak perempuan tertuaku marah mendengar gerutuanku, sambil berujar dengan keras, “Ndak bisa sabar apa? Ini memang macet semua, kalau mau turun aja disini.”

Mama saat itu masih sehat namun merasakan sakit di kaki karena pengeroposan di tulang sendinya. Aku saat itu tidak memperdulikan keadaan mama, yang ada hanya pikiran agar aku segera sampai di tempat dengan segera.




Mama bersedia berjalan dengan kaki yang sakit, melewati hall yang panjang di JHCC, langkahnya tergopoh dan tertahan karena rasa sakit dikaki. Aku menoleh ke belakang, “Ma, ayo Ma, yang cepat…” ujarku ketika mengok ke belakang dan melihat mama tertinggal berusaha mengejarku. Mama hanya mengerakkan tangannya menandakan agar aku berjalan terlebih dahulu.

Aku tiba di acara dan menjalani acara tersebut, namun ketakutan menyergap dalam pikiranku sebagai sarjana baru, “Apa yang hendak kulakukan sesudah ini?”

Mama menangis melihatku berjalan menyisiri tangga podium untuk menerima gelar kesarjanaanku. Ia menangis memelukku setelah acara wisuda di gedung JHCC itu selesai. Aku tidak mengerti sama sekali perasaan dan tangisan Mama saat itu.

Aku yang sewaktu kecil disayang, sewaktu remaja diperhatikan dan dipenuhi kebutuhannya, namun aku tidak merasakan apapun saat itu.




Sekarang aku mengerti tangisan air mata mama. Pengertian itu hadir ketika melepas anakku yang menjelang remaja untuk berangkat retret hari ini. Perasaaan bahwa anakku sudah besar dan tidak memerlukan aku, perasaan melihat ia akan pergi meninggalkan aku suatu saat nanti untuk sekolah atau berkeluarga, perasaan bahwa aku tidak bisa memeluk dan menciumnya sesering yang ku mau lagi. Dan perasaan takut, bahwa aku akan mengalami hal yang sama dengan mama, yaitu diperlakukan dengan tidak baik oleh anaknya ketika tua.

Anakku akan menjadi anakku selalu, apapun yang mereka lakukan, aku hanya bisa terus memberikan ajaran dan contoh yang sebaiknya, dan selalu mendoakan anakku dalam tiap nafasku.

Sekarang aku paham, Ma, akan arti kasih sayang ibu dan tangisan Mama waktu itu.